Qonita Luthfiyah : Harlah PPP ke-53 Khittah Politik Islam Bukan Sekadar Kekuasaan

Rudi Irwanto

SatuNet.co,Depok – Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-53 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dimaknai sebagai ruang muhasabah ideologis untuk meneguhkan kembali arah perjuangan politik Islam.

Dalam peringatan tersebut, Legislator Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Hj. Qonita Lutfiyah, SE, MM menegaskan bahwa politik yang diperjuangkan PPP bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan ikhtiar kebermanfaatan untuk umat, dengan khittah politik Islam dan amanah umat sebagai fondasi utama dalam menjalankan peran politik yang bermartabat dan berkeadaban.

Menurut Qonita, Harlah PPP bukan sekadar perayaan usia, melainkan ruang muhasabah untuk menilai sejauh mana perjuangan politik partai tetap sejalan dengan nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab moral. Ia menilai, lebih dari lima dekade perjalanan PPP merupakan bukti bahwa partai ini lahir sebagai ikhtiar politik umat Islam untuk menghadirkan politik yang beretika dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

“Harlah PPP bukan sekadar perayaan usia, tetapi momentum muhasabah khittah. Kita diingatkan kembali bahwa perjuangan politik PPP lahir dari iman, dijalankan dengan amanah, dan diabdikan sepenuhnya untuk umat,” ujar Qonita Luthfiyah pada Minggu (4/1/2026).

Qonita menegaskan bahwa politik dalam pandangan PPP tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keislaman. Politik bukan semata-mata instrumen kekuasaan, melainkan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan, baik kepada rakyat maupun kepada Allah SWT.

“Bagi PPP, politik adalah bagian dari ibadah. Setiap keputusan, sikap, dan kebijakan harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah SWT,” tegasnya.

Qonita menjelaskan bahwa khittah politik Islam yang diperjuangkan PPP bukan sekadar identitas historis, melainkan pedoman hidup dalam berpolitik. Nilai kejujuran, keadilan, persatuan, dan keberpihakan kepada umat harus menjadi kompas utama dalam setiap langkah dan kebijakan politik.

“Khittah politik Islam adalah kompas perjuangan PPP. Tanpa kompas itu, politik akan kehilangan arah dan menjauh dari nilai-nilai keadaban. Karena itu, kejujuran, keadilan, dan persatuan harus terus dijaga,” kata Qonita.

Qonita menilai PPP memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan politik yang menyejukkan dan mempersatukan. Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap diwarnai polarisasi, politik Islam harus tampil sebagai rahmat bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan sebagai alat pembelah.

Qonita menyoroti peran strategis PPP di Kota Depok, menilai Depok memiliki karakter masyarakat yang religius sekaligus dinamis, sehingga membutuhkan arah pembangunan yang mampu mengharmonikan nilai keagamaan dengan tuntutan modernitas.

“Depok memiliki peluang besar menjadi kota religius-modern. Nilai agama harus menjadi fondasi etika publik, sementara kemajuan diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berpihak pada masyarakat,” ungkapnya.

Qonita mengatakan, religiusitas tidak boleh berhenti pada simbol dan seremonial, tetapi harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti keadilan sosial, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta pembangunan ekonomi yang berkeadilan. Inilah wujud nyata dari amanah umat yang harus dijaga oleh seluruh pemangku kepentingan.

Qonita juga mengajak seluruh kader dan simpatisan PPP untuk menjadikan Harlah ke-53 sebagai momentum konsolidasi ideologis dan penguatan kerja-kerja kerakyatan. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan internal serta menjunjung tinggi etika politik dalam setiap peran dan tanggung jawab yang diemban.

“Kekuasaan bukan tujuan akhir perjuangan. Kekuasaan hanyalah sarana untuk menunaikan amanah umat dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Qonita menegaskan bahwa politik religius yang diperjuangkan PPP harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus kebutuhan masyarakat Kota Depok yang terus berkembang.

Qonita berharap nilai amanah, persatuan, dan keadilan dapat berjalan seiring dengan laju kemajuan kota, sehingga Depok tidak hanya dikenal sebagai kota yang religius, tetapi juga modern, inklusif, dan adaptif terhadap perubahan.

Dengan menjadikan agama sebagai fondasi moral dan kemajuan sebagai tujuan bersama, Qonita optimistis Depok dapat tumbuh sebagai kota yang berkeadaban, berdaya saing, serta mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh warganya.tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *