SatuNet.co,Banten – Wakil rakyat, H. Igun Sumarno tetap meluangkan perhatian untuk merawat warisan leluhur melalui pemeliharaan ikan mas berok di Lembur, Citorek, Kabupaten Lebak, Banten.
Berbekal pengalaman dan ketelatenan, ia turut menjaga tradisi budidaya ikan lokal yang dapat tumbuh hingga berbobot 7 kilogram sekaligus mempertahankan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi H. Igun, pemeliharaan ikan mas berok bukan sekadar kegiatan perikanan, melainkan bagian dari pengetahuan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Citorek. Keberadaan ikan ini juga berkaitan dengan tradisi sosial dan budaya setempat, termasuk kegiatan selamatan, syukuran, hingga ritual adat.
“Jadi, sebetulnya yang namanya budidaya ikan itu sudah turun-temurun. Sejak zaman nenek moyang mungkin sudah dilakukan pada saat itu. Cuma, oleh generasi-generasi muda sekarang ini lebih dikembangkan kembali,” ujar H. Igun, Jumat (9/10/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tradisi budidaya ikan mas berok tidak hanya diwariskan, tetapi juga terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman. Keterlibatan generasi muda menjadi penting untuk menjaga keberlangsungannya sekaligus membuka peluang ekonomi tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat.
Salah satu keunikan pemeliharaan ikan mas berok di Lembur, terletak pada penggunaan dua lingkungan berbeda, yakni sawah dan berok atau keramba di aliran Kali Citorek. Berdasarkan pengalaman masyarakat setempat, pemeliharaan dilakukan secara bertahap untuk mendukung pertumbuhan ikan hingga mencapai ukuran yang lebih besar.
“Pada tahap awal, ikan dipelihara di sawah setelah masa panen selama kurang lebih satu tahun. Setelah bobotnya mencapai sekitar satu kilogram, ikan kemudian dipindahkan ke berok atau keramba di aliran Kali Citorek untuk melanjutkan proses pembesaran,” jelasnya.
Setelah dipindahkan ke keramba, ikan kembali dipelihara hingga mencapai bobot yang lebih besar, bahkan dapat menyentuh 7 kilogram. Ukuran tersebut menjadi salah satu daya tarik ikan mas berok sekaligus memperlihatkan potensi perikanan lokal yang layak diperkenalkan lebih luas.
Ketelatenan dalam pemeliharaan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ikan diberi pakan berupa keong tutut, kijing atau kerang air tawar, serta pelet. Selain kecukupan pakan, kualitas air dan kondisi lingkungan perairan juga perlu diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan ikan.
Keunikan ikan mas berok juga terlihat dari perilakunya ketika berinteraksi dengan pemelihara. Saat pakan ditebarkan, ikan-ikan tersebut bergerak mendekat ke tangan pembudidaya. Dalam kondisi tertentu, ikan bahkan dapat ditangkap menggunakan tangan, menghadirkan pemandangan menarik bagi orang yang menyaksikannya secara langsung.
“Nah, pemandangan tersebut menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin mengenal ikan mas berok lebih dekat. Mereka tidak hanya dapat melihat ikan berukuran besar, tetapi juga menyaksikan praktik pemeliharaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Lembur, Citorek,” paparnya.
Dari sisi ekonomi, ikan mas berok menyimpan peluang pasar, terutama di kalangan konsumen perkotaan yang telah mengenal keunikan ikan tersebut. Ukurannya yang dapat tumbuh besar dan cita rasa dagingnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta kuliner.
“Ikan ini memang banyak diburu oleh orang-orang kota yang sudah tahu. Salah satu keunggulannya terlihat dari fisiknya, karena ukurannya bisa tumbuh besar dibandingkan ikan di daerah lain. Selain ukuran, cita rasa juga menjadi daya tarik ikan mas berok. Ikan yang dipelihara di aliran sungai tersebut memiliki rasa khas, terutama ketika diolah dengan cara dikukus,” tuturnya.
Potensi tersebut membuka peluang bagi ikan mas berok untuk semakin dikenal sebagai bagian dari kekayaan kuliner Kabupaten Lebak.
Pengembangan usaha budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan promosi kuliner lokal dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekhasan Citorek kepada pengunjung dari luar daerah.
Meski demikian, pengembangan potensi tersebut perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas air dan kelestarian lingkungan. Praktik pemeliharaan yang baik dan berkelanjutan penting agar manfaat ekonomi dapat terus dirasakan tanpa mengabaikan ekosistem perairan maupun keberlangsungan tradisi setempat.
H. Igun pun mengajak masyarakat untuk datang langsung ke Citorek, mengenal ikan mas berok lebih dekat, sekaligus menikmati cita rasanya.
“Dagingnya enak, terus ukurannya juga beragam. Jadi, buat teman-teman yang porsinya besar, mau makan enak dengan porsi besar, datang saja ke sini,” ajaknya.
Menutup pernyataannya, H. Igun menegaskan, menjaga ikan mas berok berarti merawat warisan leluhur sekaligus mempertahankan salah satu identitas masyarakat Citorek. Tradisi ini tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung perekonomian lokal apabila terus dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutannya.
Ia berharap ikan mas berok semakin dikenal luas, sehingga kekayaan lokal yang diwariskan para pendahulu tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang.
“Semoga ikan mas berok ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Citorek atau Kabupaten Lebak, tetapi juga semakin dikenal luas. Tradisi yang diwariskan leluhur harus terus kita jaga dan kembangkan agar generasi mendatang tetap bisa mengenal, menikmati, dan merasakan manfaatnya,” tutupnya.











