Berita  

Raffi Ahmad : Saya Terbuka untuk Kritik, Bukan Fitnah

Rudi Irwanto

SatuNet.co,Jakarta –  Raffi Ahmad kini santer dibahas usai agenda Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, 29 Oktober 2029 lalu. Kehadirannya dalam agenda tersebut justru menimbulkan asumsi negatif dari masyarakat. Terutama soal isu dugaan mahasiswa bayaran yang disewa untuk mengikuti agenda tersebut.

Isu ini kemudian dikaitkan dengan kehadiran Raffi Ahmad yang ikut bersuara terkait momen Sumpah Pemuda

Bahkan rumor beredar bahwa suami Nagita Slavina ini adalah donatur dari kegiatan tersebut dan membayar warga sipil untuk menggunakan identitas mahasiswa.

Tuduhan ini pun langsung ditanggapi oleh Raffi Ahmad di akun Instagram pribadinya. “Assalamualaikum Wr Wb, Selamat malam, izinkan saya untuk meluruskan informasi yang sedang berkembang di media sosial saat ini,” tulisnya. Dalam unggahan tersebut, Staf khusus Presiden ini mengaku bahwa dirinya hadir karena ada undangan.

Undangan tersebut baru ia terima pada malam sebelum acara, tersebut dimulai. Lebih lanjut, pendiri RANS Entertainment ini juga menyebut bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara.

Bahkan ia mengaku tidak mengetahui detail susunan acara serta siapa saja yang akan hadir di agenda tersebut. Raffi juga kemudian membantah tuduhan melakukan endorse dalam agenda tersebut dengan menampilkan sebuah merek.

Ia menyebut bahwa merek yang tampak di tempat agenda berlangsung sebelum acara itu dimulai. “Gapura dan pembatas jalan yang menampilkan merek tersebut sudah berdiri jauh sebelum acara dan tidak berkaitan dengan kehadiran saya,” jelasnya.

Raffi Ahmad mengaku sangat menghormati masyarakat yang menyampaikan aspirasi dalam rangka Hari Sumpah Pemuda

Raffi juga mengaku bahwa ia akan terbuka terhadap kritik masyarakat terhadapnya. “Saya selalu terbuka terhadap kritik dan masukan, tentunya kritik yang didasarkan pada fakta, bukan tuduhan atau fitnah dari dugaan yang tidak benar, terlebih jika menyangkut keluarga,” tegasnya.

Raffi Ahmad pun mengajak masyarakat untuk selalu mencari kebenaran dari suatu isu yang beredar sebelum menyimpulkannya.

Sebelumnya, tuduhan mahasiswa bayaran ini muncul saat ada seorang warga sipil mengaku telah dibayar untuk ikut agenda tersebut. Bahkan almamater yang dipakainya diberikan oleh pihak lain untuk dipakainya dalam agenda tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *