SatuNet.co,Depok – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Depok mulai membangun peta ekosistem ekonomi daerah berbasis data sebagai pijakan untuk membaca persoalan, mengidentifikasi potensi, dan menemukan ruang yang dapat diperkuat dunia usaha.
Langkah ini menjadi bagian dari persiapan calon pengurus KADIN Kota Depok periode 2026–2031 dalam menyusun program kerja yang selaras dengan kebutuhan daerah sekaligus mendukung agenda pembangunan Pemerintah Kota Depok.
Upaya tersebut mengemuka dalam agenda silaturahmi dan konsolidasi calon pengurus KADIN Kota Depok periode 2026–2031 bertema “Semangat Pancasila dalam Kolaborasi Bisnis untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Depok.”
Ketua KADIN Kota Depok, Karlina mengatakan proses pemetaan diawali melalui dialog bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) serta Sekretariat Daerah (Setda) Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemerintah Kota Depok.
Dialog itu diarahkan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi ekonomi Depok, mulai dari persoalan yang masih dihadapi hingga potensi yang dapat dikembangkan melalui peran dunia usaha.
“Kami ingin mendapatkan gambaran Kota Depok secara utuh agar kami bisa merumuskan atau mengisi dari celah atau peluang yang belum bisa terlaksana melalui program Pemerintah Kota Depok,” ujar Karlina pada Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, pemetaan menjadi penting karena masih terdapat ruang ekonomi yang belum berkembang secara optimal. KADIN ingin memastikan setiap program yang dirancang memiliki pijakan kebutuhan daerah, bukan sekadar menjalankan kegiatan organisasi.
“Pembangunan ekonomi itu masih banyak sekali peluang-peluang yang belum tersentuh dan belum terlaksana, sehingga perlu bagi KADIN untuk memahami dan membaca mapping atau peta ekosistem ekonomi yang ada di Kota Depok,” katanya.
Salah satu persoalan yang masuk dalam pembahasan adalah inflasi. Berdasarkan data yang diterima KADIN, inflasi year-to-date Kota Depok tercatat 2,05 persen dan dalam pemaparan pemerintah daerah disebut menjadi yang tertinggi di Jawa Barat.
“KADIN akan mencoba masuk melalui program yang bisa menekan angka inflasi itu,” tandasnya.
Angka tersebut menjadi salah satu pintu masuk bagi KADIN untuk mengidentifikasi ruang kontribusi dunia usaha. Dalam pembahasan bersama pemerintah daerah, tekanan inflasi berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain gangguan rantai pasok, perubahan harga pangan dan energi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta faktor lainnya.
Namun, KADIN belum menetapkan bentuk program untuk merespons persoalan tersebut. Pembahasan lanjutan bersama Bapperida dan Setda Bidang Ekonomi diperlukan agar setiap gagasan memiliki dasar yang jelas dan dapat diterapkan secara nyata.
“Sebelum kita memutuskan pilihan program mana yang akan dikerjakan, kami akan melaksanakan diskusi bersama Bapperida dan Setda Bidang Ekonomi agar rumusan yang nanti menjadi pandangan dan saran dari KADIN itu bisa kita laksanakan secara riil di lapangan,” jelasnya.
Pemetaan KADIN tidak hanya menyasar persoalan ekonomi, tetapi juga potensi usaha lokal yang telah mampu menjangkau pasar internasional. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah ikan hias.
Berdasarkan data dari TP3D, ikan hias asal Depok telah menembus pasar sejumlah negara, di antaranya China, Singapura, dan beberapa negara di Eropa.
Potensi tersebut akan ditelaah melalui kunjungan KADIN bersama TP3D ke lokasi pelaku usaha ikan hias dan tanaman hias. Kunjungan itu ditujukan untuk melihat kondisi usaha secara langsung sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang dapat diperkuat.
“Kami ingin melihat dan mempelajari apa saja yang bisa dibantu oleh KADIN, sehingga harapannya adalah bisnis atau usaha ternak ikan hias ini akan bisa semakin besar dan menarik atau memberi kesempatan tenaga kerja yang lebih banyak lagi,” ungkapnya.
Kebutuhan pelaku usaha belum langsung ditentukan karena masih menunggu hasil peninjauan lapangan. Permodalan dan teknologi menjadi dua aspek yang kemungkinan dikaji, bersama kebutuhan lain yang ditemukan dari kondisi usaha secara langsung.
Selain ikan dan tanaman hias, hasil dialog dengan pemerintah daerah juga membuka ruang kajian pada sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Berbagai potensi tersebut belum otomatis menjadi program kerja. KADIN masih mengolah data dan informasi yang diperoleh untuk menentukan kegiatan yang paling relevan dengan kebutuhan serta karakter ekonomi Depok.
“Kami masih harus merumuskan kembali kegiatan apa saja yang akan kami pilih berdasarkan dari data dan informasi yang kami miliki bersama tadi Bapperida dan Setda Bidang Ekonomi,” ucapnya.
Meski kepengurusan KADIN Kota Depok periode 2026–2031 belum resmi dilantik, persiapan program telah mulai berjalan. Konsolidasi dilakukan sejak awal karena waktu sangat berharga.
“Ada beberapa rencana kerja yang KADIN sudah susun, sudah mulai dikerjakan, meskipun susunan pengurus ini belum dilantik. Tapi kami bersepakat untuk memulai kegiatan KADIN ini tanpa harus menunggu sampai dilantik dulu,” tegasnya.
Pemetaan tersebut pada akhirnya diarahkan untuk menemukan titik temu antara kebutuhan pembangunan daerah dan kapasitas dunia usaha. Data yang dihimpun menjadi dasar untuk menyaring persoalan, mengembangkan potensi, serta menentukan ruang kolaborasi yang dapat menghasilkan program konkret.
Dengan pendekatan itu, KADIN tidak sekadar menyusun daftar kegiatan, tetapi berupaya menempatkan program kerja berdasarkan kondisi riil ekonomi Depok dan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin program kerja KADIN ke depan mampu menjadi bagian dari solusi ekonomi Depok, membuka lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja, serta memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Depok untuk mendorong Depok yang semakin maju dan berdaya saing,”tutup Karlina.











