Berita  

Akademisi Apresiasi Presiden Prabowo dan Rosan, Hilirisasi Dorong Nilai Tambah dan Lapangan Kerja

Rudi Irwanto

SatuNet.co,JAKARTA – Langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani dalam mendorong percepatan hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional diapresiasi dari kalangan akademisi.

Dr. Sarlina Sari Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bina Sarana Informatika, Indonesia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam mendorong percepatan hilirisasi industri dan peningkatan investasi nasional.

Menurut Dr. Sarlina, pengembangan industri hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, memperkuat struktur industri nasional, serta memperluas kesempatan kerja. Kebijakan tersebut perlu diikuti dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, transfer teknologi, dan keterlibatan industri dalam negeri agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas.

“Saya mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang terus mendorong hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, dan tantangannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah tinggi, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat,” ujar Dr. Sarlina dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Apresiasi tersebut sejalan dengan peluncuran 11 proyek ekosistem hilirisasi nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 8 Oktober 2026. Presiden Prabowo meresmikan empat proyek industri yang memasuki tahap komersialisasi serta memulai pembangunan tujuh proyek industri baru, dengan total nilai investasi sekitar Rp180 triliun.

Menurut Dr. Sarlina, langkah tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi material baterai kendaraan listrik, aluminium, dan komponen pendukung industri energi masa depan.

“Yang penting bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan juga seberapa jauh investasi tersebut mampu membangun ekosistem industri yang kuat, meningkatkan kapasitas teknologi nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Hilirisasi harus menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok industri global,” katanya.

Dr. Sarlina juga mengapresiasi peran Rosan Perkasa Roeslani dalam mendorong realisasi investasi dan memperkuat agenda hilirisasi. Menurutnya, upaya menarik investasi perlu berjalan beriringan dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, sebelas proyek hilirisasi di IWIP diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja, dengan total nilai investasi sekitar Rp180 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan industri baterai, material berbasis nikel, aluminium, alat berat berbasis listrik, dan industri pendukung energi surya.

“Peran Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjadi penting dalam memastikan bahwa komitmen investasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita berharap investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas industri, tetapi juga membuka peluang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat pemasok domestik, dan mendorong tumbuhnya industri pendukung nasional,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberhasilan hilirisasi perlu diukur melalui sejumlah indikator yang konkret, antara lain peningkatan nilai tambah produk, pertumbuhan ekspor produk olahan, penciptaan pekerjaan, penguatan keterampilan tenaga kerja, serta semakin besarnya partisipasi perusahaan nasional dalam rantai pasok industri.

Selain proyek hilirisasi di Maluku Utara, perkembangan investasi nasional juga menjadi perhatian. Berdasarkan laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Investasi sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional.

Bagi Dr. Sarlina, capaian tersebut perlu diikuti dengan agenda pemerataan manfaat investasi, khususnya melalui penguatan hubungan antara industri besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), lembaga pendidikan, serta pemerintah daerah.

“Investasi yang berkualitas adalah investasi yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu diperkuat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan keberlanjutan dalam pengembangan kawasan industri. Dengan demikian, percepatan hilirisasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas serta tanggung jawab sosial dan lingkungan.

“Indonesia perlu memastikan bahwa transformasi dari negara yang mengekspor bahan mentah menjadi negara industri menghasilkan manfaat jangka panjang. Kita ingin sumber daya alam tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan teknologi, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” tutup Dr. Sarlina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *