SatuNet.co,DEPOK—Sejumlah petugas kebersihan (pesapon) di Kota Depok mengeluhkan minimnya fasilitas penunjang kerja serta penanganan operasional dalam beberapa tahun terakhir. Masalah yang dihadapi petugas di lapangan meliputi tidak tersedianya seragam baru secara merata, rendahnya kualitas alat kerja, hingga terbatasnya pasokan kantong sampah (polybag).
Para petugas mengungkapkan bahwa mereka sering kali harus membeli sapu sendiri menggunakan uang pribadi. Perlengkapan sapu yang disediakan melalui pengadaan dinilai cepat rusak dan rontok saat digunakan untuk membersihkan area jalan raya maupun lingkungan kantor.
“Sapu dapet, tapi ya itu kalau dipakai rontok. Jadi kadang kita beli sendiri pake uang pribadi. Polybag juga pas-pasan, padahal kalau lagi tugas kaya di Car Free Day itu sampahnya numpuk banget kaya pasar tumpah.” Kata salah satu petugas pesapon yang enggan menyebutkan identitasnya. Rabu, (7/10/26).
Selain peralatan kerja, lanjutnya, kondisi seragam pesapon turut menjadi keluhan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya para petugas mengenakan pakaian dinas berwarna oranye yang seragam dan mencolok di jalan raya, saat ini para pesapon terpaksa menggunakan pakaian dengan warna yang beragam karena tidak menerima jatah seragam baru.
Terkait operasional di lapangan, beban kerja petugas dirasa makin berat. Saat bertugas di area Car Free Day (CFD), petugas harus membersihkan tumpukan sampah yang banyak seperti pasar tumpah tanpa didukung ketersediaan kantong polybag yang memadai.
“Banyak yang nanya, kenapa seragam pesapon sekarang enggak sama? Dulu kan oranye semua, jadi kelihatan pas kerja di jalan. Nah sekarang mah pelangi-pelangi, semua warna ada, ya karena kita emang enggak dapet jatah seragam baru.” Ucapnya.
Meski sebagian petugas telah beralih status menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu dengan pembagian dua <span;>shift<span;> kerja dan batas usia pensiun menjadi 58 tahun, para petugas menilai tingkat kesejahteraan dan fasilitas kerja tidak mengalami peningkatan signifikan.
“Statusnya aja katanya udah P3K Paruh Waktu, jam kerja dibikin dua shift, tapi gajinya mah tetap aja. Fasilitas penunjang kerja kaya gini malah makin parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.”tambahnya.
Berbagai keluhan tersebut hingga kini belum tersampaikan kepada pihak manajemen Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok. Pihak Koordinator Kecamatan (Korcam) dan pengawas lapangan dinilai ragu untuk menyuarakan aspirasi para petugas ke tingkat pimpinan. Para petugas berharap ada evaluasi dan perhatian serius terkait pengadaan sarana serta prasarana kebersihan di wilayah Depok.
“Keluhan-keluhan kaya gini enggak ada yang berani nyampein ke atasan. Korcam sama pengawas aja enggak berani. Kebanyakan cuma bisa bilang ‘siap, siap’ aja.” Pungkasnya.











