SatuNet.co,Jakarta – Dr. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds., M.Si., dari Sanggar Ayodya Pala Kota Depok berbagi perspektif mengenai harmoni seni pertunjukan dengan menekankan pentingnya penguatan kelembagaan.
Denta memaparkan hal tersebut saat menjadi nara sumber kegiatan Workshop Harmoni Seni Pertunjukan Dalam Rangka Aktivasi Desa Kreatif yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Serba Guna Lantai 1, Gedung Serba Guna Perkampungan Budaya Betawi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dia menambahkan, keberlanjutan aktivitas sanggar, dan kolaborasi dalam membangun ekosistem seni dan budaya yang produktif.
“Workshop ini menjadi wadah bagi para pegiat seni pertunjukan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, memperluas jejaring, serta membangun kolaborasi antara komunitas seni dan para pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan aktivasi desa kreatif,” katanya.
Dalam paparannya yang bertajuk Harmoni Seni Pertunjukan, Denta menyoroti pentingnya menempatkan sanggar seni sebagai pusat pembelajaran, penciptaan karya, produksi, dan regenerasi pelaku seni.
Menurut pendekatan yang disampaikan dalam materi tersebut, keberlanjutan seni pertunjukan tidak cukup hanya mengandalkan penyelenggaraan pentas.
“Kami rasa perlu ditopang oleh aktivitas sanggar yang berlangsung secara konsisten,” ujarnya.
Dia menambahkan, sanggar seni perlu terus hidup di antara satu pertunjukan dan pertunjukan berikutnya melalui kegiatan latihan rutin, transfer keterampilan, kelas terbuka, diskusi, evaluasi produksi, serta kolaborasi dengan komunitas dan subsektor ekonomi kreatif lainnya.
Pendekatan tersebut menempatkan sanggar bukan sekadar sebagai tempat latihan, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem yang menjaga keberlangsungan proses kreatif, pengembangan talenta, dan pewarisan seni budaya kepada generasi berikutnya.
“Kami juga mengusulkan pola aktivitas yang terstruktur, mulai dari kegiatan mingguan berupa latihan dan pencatatan peserta, kegiatan bulanan berupa kelas terbuka dan evaluasi produksi, hingga kegiatan triwulanan berupa pentas, pameran, kolaborasi, dan penyusunan laporan kegiatan,” ungkapnya.
Pola ini dapat menjadi salah satu acuan bagi pengelola sanggar untuk membangun tata kelola yang lebih terencana dan berkelanjutan.
Selain penguatan kelembagaan, materi yang disampaikan juga menekankan pentingnya kolaborasi antara seni pertunjukan dan seni rupa.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui penggabungan musik, tari, teater, dan dramaturgi dengan desain artistik, topeng, instalasi, properti, busana, kriya, tata rias, fotografi, serta produksi video.
ntegrasi berbagai bidang tersebut membuka peluang lahirnya produk kreatif bersama, seperti pertunjukan, pameran, kelas seni, festival, dan arsip digital.
Dengan demikian, potensi seni dan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi pengalaman kreatif yang lebih beragam, sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan pelaku ekonomi kreatif lainnya.
Dalam konteks aktivasi desa kreatif, kolaborasi semacam ini penting agar kegiatan seni budaya tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi tumbuh menjadi aktivitas yang melibatkan masyarakat, memperkuat identitas lokal, dan membuka peluang ekonomi bagi warga.
Workshop Harmoni Seni Pertunjukan diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antara pelaku seni, pengelola desa kreatif, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sinergi tersebut diperlukan agar pengembangan seni pertunjukan dapat berjalan seiring dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi karya, dan pengembangan peluang ekonomi kreatif.
Partisipasi Denta Mandra Pradipta Budiastomo sebagai narasumber juga menegaskan relevansi pengalaman pengelolaan sanggar seni dalam pembahasan pengembangan ekosistem seni budaya.
Praktik pengelolaan yang terencana, aktivitas rutin, regenerasi, serta kolaborasi lintas subsektor dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan sanggar dan desa kreatif.
“Ke depan, penguatan ekosistem ini kami harapkan tidak hanya menghasilkan lebih banyak pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang berkelanjutan, melahirkan karya yang relevan dengan perkembangan zaman, memperluas partisipasi masyarakat, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” katanya.
Sebagaimana pesan penutup dalam materi presentasinya, pembangunan desa kreatif perlu diarahkan untuk terus belajar, berkarya, berkolaborasi, dan menyejahterakan warga.
Sementara itu, Dua narasumber lainnya adalah Abdul Samad Laode, Creative Director dan mantan Manajer Produksi Trans7, yang membawakan materi Marketing Seni Pertunjukan: Menyatukan Kreativitas dan Strategi Bisnis, serta Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, yang menyampaikan materi Penguatan Karya dan Ekosistem Seni Pertunjukan.











