Sumpah Pemuda dalam Koreografi Dua Penari Remaja di Pentas Swara SeadaNya

Rudi Irwanto

SatuNet.co,DEPOK — Panggung seni pertunjukan menyajikan pergulatan batin yang sunyi sekaligus bergelora. Di tengah sorot lampu yang redup dan iringan musik spiritual oleh kelompok Swara SeadaNya, dua penari remaja menghentakkan kaki, membawakan gerak tari yang tak sekadar memanjakan mata, tetapi juga menembus relung jiwa.

Ganeshauman Taqwa Lumakso tampil membawakan figur Sutasoma yang menyimbolkan melambangkan cahaya, kedamaian, dan welas asih kejahatan, Sebaliknya, Indonesiana Ayuningtyas menjadi penari yang merepresentasikan figur Purusada sebagai simbolisme kerakusan, serta kegelapan.

Lewat eksplorasi koreografi berbasis fragmen wiracarita klasik Kakawin Sutasoma, tubuh kedua penari muda ini menjadi perantara pesannya: pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan di dalam diri manusia.

Pertunjukan seni sekaligus diseminasi riset yang dipimpin oleh pakar kebudayaan Jawa Dr. Turita Indah Setyani bertajuk “SUTASOMA VS PURUSADA” ini diselenggarakan pada 26 Oktober 2026.

Pergelaran budaya ini terwujud atas dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, LPDP, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, serta kolaborasi kelompok seni lintas disiplin Swara SeadaNya yang digawangi oleh Gunawan Wicaksono, Ayi Suminar, Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Abrar Husin, Bay Guitaro, dan Dr. Ari Prasetiyo. Digelar dalam momentum menjelang Hari Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, pementasan ini menghadirkan relevansi mendalam bagi konteks kebangsaan masa kini.

Pertarungan antara Sutasoma dan Purusada di atas panggung bukanlah sekadar rekaan cerita kuno, melainkan cerminan kuat dari jiwa dan esensi Sumpah Pemuda.

Peristiwa sejarah Sumpah Pemuda tahun 1928 merupakan puncak kesadaran ketika pemuda dari pelbagai latar belakang suku, bahasa, dan agama berhasil menaklukkan “Purusada” dalam diri masing-masing, yakni ego kedaerahan, chauvinisme, dan potensi perpecahan.

Persatuan Indonesia tidak akan pernah terwujud tanpa keberhasilan menundukkan kebencian dan angkara murka di dalam diri.

Ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa adalah manifestasi nyata dari ahimsa atau belas kasih universal yang diajarkan dalam Kakawin Sutasoma, ikrar yang melahirkan semboyan abadi bangsa, Bhinneka Tunggal Ika.

Menghidupkan nilai “Sutasoma” dalam kehidupan modern berartinya merawat semangat gotong royong, toleransi, dan cinta kasih antarsesama anak bangsa di tengah keberagaman Indonesia.

Pertarungan ini dipahami bukan untuk menentukan siapa yang menang secara mutlak, melainkan penanda pergulatan batin yang terus berlangsung.

Semangat Sumpah Pemuda bukan janji yang selesai diucapkan pada tahun 1928, melainkan medan juang batin dan sosial yang harus terus dirawat oleh setiap generasi muda.

“Pertarungan antara Sutasoma dan Purusada bukan sekadar kisah wiracarita klasik, melainkan cerminan dari pergulatan jiwa bangsa kita hari ini.

Esensi Sumpah Pemuda pada dasarnya adalah kemenangan ‘Sutasoma’, welas asih, persatuan, dan keluhuran budi, atas ‘Purusada’, segala bentuk egoisme, perpecahan, dan angkara murka yang bersemayam dalam diri. Oleh karena itu, merawat Indonesia dan menjaga kebhinekaan adalah medan pertempuran batin yang harus terus kita menangkan setiap hari dari dalam diri kita sendiri,” ungkap Manajer Swara SeadaNya Ayi Suminar.

Melalui tiap olah gerak dan gestur tari, Ganeshauman dan Indonesiana menyampaikan ajakan sunyi namun tegas kepada anak-anak muda zaman sekarang: mari meredam segala bentuk egoisme, merawat kebhinekaan, dan mengutamakan persatuan bangsa serta negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *