Rizal Djibran Dorong Rekonstruksi Perfilman Nasional

Rudi Irwanto

SatuNet.co,JAKARTA — Di tengah meningkatnya produksi serta ekspansi pasar perfilman nasional dalam beberapa tahun terakhir, aktor, akademisi, sekaligus peneliti industri kreatif Dr. Rizal Djibran S.Sos., MM., PD., CFA. menilai ada persoalan yang jauh lebih mendasar dibanding sekadar capaian box office atau pertumbuhan jumlah produksi film.

Menurutnya, tantangan terbesar perfilman Indonesia hari ini bukan hanya soal karya, tetapi bagaimana membangun tata kelola industri yang sehat, berkelanjutan, dan mampu melindungi para pekerja di dalamnya.

Dalam orasinya pada Deklarasi Federasi Serikat Pekerja Global Indonesia (FSPGI) di Jakarta, Rizal menegaskan bahwa industri perfilman tidak dapat terus bertumpu pada pertumbuhan pasar semata, sementara struktur yang menopang para pekerjanya masih lemah.

“Kalau industrinya terus tumbuh tetapi manusianya tidak dipersiapkan dan dilindungi secara serius, maka pertumbuhan itu sebenarnya rapuh,” ujarnya.

Menurut Rizal, selama ini perfilman Indonesia terlalu sering dibicarakan dari sisi popularitas karya dan pencapaian pasar, padahal di balik layar terdapat ekosistem pekerja kreatif yang luas dan menopang keberlangsungan industri tersebut. Mulai dari aktor, kru produksi, penulis, hingga pekerja teknis, seluruhnya membutuhkan sistem kerja yang sehat dan memiliki arah pembangunan jangka panjang.

Dengan jumlah pekerja perfilman yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang, ia menilai perfilman tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai sektor hiburan semata. Di dalamnya terdapat rantai ekonomi, ruang kerja kreatif, produksi pengetahuan, hingga pembentukan identitas budaya nasional.

“Karena itu, pembenahan perfilman bukan sekadar urusan industri film. Ini juga menyangkut bagaimana negara memandang pekerja budaya dan masa depan industri kreatif Indonesia,” katanya.

Rizal sendiri dikenal sebagai figur multidisipliner yang bergerak di dunia seni, bisnis, dan akademik. Lahir di Malang pada 29 Agustus 1977, ia memulai karier di industri hiburan sejak era 1990-an dan dikenal melalui berbagai film, sinetron, serta serial laga kolosal Indonesia. Di luar dunia seni peran, ia juga aktif mengembangkan kajian mengenai pekerja kreatif dan tata kelola perfilman nasional.

Latar belakang akademiknya dibangun melalui pendidikan Ilmu Sosial dan Politik, Magister Manajemen, hingga meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Merdeka Malang dengan predikat cumlaude. Penelitian doktoralnya berfokus pada profesionalisme berkelanjutan pekerja perfilman Indonesia, khususnya terkait kompetensi, pendidikan, implementasi regulasi, hubungan industrial, dan penguatan organisasi profesi dalam industri film.

Kegelisahan tersebut, menurut Rizal, lahir dari pengamatannya terhadap berbagai persoalan yang terus berulang di industri perfilman Indonesia, mulai dari lemahnya standar kerja, minimnya perlindungan pekerja, hingga belum kuatnya sistem pengembangan kompetensi yang berkelanjutan.

Ia menilai industri perfilman Indonesia memiliki talenta yang besar, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang matang. Kompetensi, pendidikan, regulasi, hubungan kerja, dan penguatan organisasi profesi masih berjalan belum sepenuhnya terhubung dalam satu arah pembangunan industri.

Momentum polemik penolakan sertifikasi artis beberapa tahun lalu menjadi salah satu titik yang mendorong Rizal memperdalam kajian mengenai profesionalisme pekerja perfilman. Namun ia memilih menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan penelitian, bukan sekadar perdebatan di ruang publik.

“Kalau hanya berhenti pada konflik, industri ini tidak akan bergerak maju. Yang dibutuhkan adalah fondasi pengetahuan, konsolidasi, dan arah pembenahan yang jelas,” ujarnya.

Menurut Rizal, perfilman tidak dapat dibangun secara sendiri-sendiri. Industri membutuhkan kekuatan kolektif yang mempertemukan pekerja, organisasi profesi, rumah produksi, akademisi, dan pemerintah dalam satu visi pembangunan bersama.

“Industri yang sehat lahir dari kesadaran bersama bahwa kualitas karya tidak akan bertahan tanpa sistem yang mampu menopang para pekerjanya,” tegasnya.

Ia juga menilai organisasi profesi memiliki peran penting sebagai ruang konsolidasi pekerja, penguatan kapasitas, sekaligus jembatan untuk memperkuat keberlangsungan profesi di tengah perubahan industri yang semakin cepat.

Dalam pandangan Rizal, tantangan perfilman Indonesia ke depan akan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, perkembangan teknologi bukan hanya mengubah cara produksi film, tetapi juga mulai mengubah pola kerja dan posisi pekerja kreatif di dalam industri.

“Teknologi akan terus berkembang. Yang penting adalah bagaimana manusianya tetap punya ruang, perlindungan, dan posisi yang kuat di dalam perubahan itu,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebangkitan perfilman nasional tidak cukup dibangun melalui optimisme dan pertumbuhan pasar semata. Yang lebih penting adalah keberanian membangun industri yang profesional, adil, dan memiliki fondasi yang kuat bagi para pekerjanya.

“Sebab industri yang besar tidak diukur hanya dari gemerlap karya, tetapi dari bagaimana ia menjaga manusia yang membangunnya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *