DLHK Depok Perluas Budidaya Maggot

Rudi Irwanto

 SatuNet.co,Depok – Pemerintah Kota Depok terus memperkuat pengelolaan sampah organik melalui pengembangan budidaya maggot di sejumlah Unit Pengelolaan Sampah (UPS). Program yang dijalankan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok ini menjadi salah satu strategi untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Kepala DLHK Kota Depok, Reni Siti Nuraeni, mengatakan pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot telah memberikan kontribusi signifikan dalam pengurangan sampah organik. Saat ini, fasilitas pengolahan berbasis maggot yang beroperasi di UPS mampu mengolah sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik setiap hari.

Menurutnya, kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 5 ton per hari pada satu unit pengolahan.
“Kontribusi maggot dalam mengurangi sampah organik yang masuk ke TPA saat ini mencapai sekitar 2 hingga 3 ton per hari di UPS. Namun, upaya peningkatan kapasitas terus kami lakukan,” ujar Reni, Kamis (04/06/26).

Reni menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah berbasis maggot tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas dan teknologi, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Karena itu, DLHK terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pemisahan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang.
Menurutnya, kualitas sampah yang masuk ke UPS menjadi faktor utama dalam keberhasilan proses pengolahan. Sampah organik yang bersih dan terpilah dapat dimanfaatkan secara optimal menjadi pakan ternak maupun pupuk, sehingga mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

Selain meningkatkan kapasitas pengolahan yang ada, DLHK juga mulai mempersiapkan langkah antisipatif terhadap potensi peningkatan timbulan sampah organik dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat.

Budidaya maggot dinilai menjadi salah satu solusi efektif dalam pengelolaan sampah organik. Selain mampu mempercepat proses penguraian limbah, hasil akhirnya memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun bahan baku pupuk organik.

Meski demikian, Reni mengingatkan bahwa pengelolaan maggot memerlukan penanganan yang serius dan berkelanjutan. Sebagai organisme hidup, maggot membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai serta pasokan pakan organik yang konsisten.

“Pengolahan sampah menggunakan maggot membutuhkan pelatihan dan penanganan yang telaten karena berkaitan dengan makhluk hidup. Ketersediaan sampah organik sebagai sumber pakan harus terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, pasokan sampah yang tidak stabil atau tercampur residu dan bahan berbahaya dapat menghambat pertumbuhan larva, bahkan berpotensi menyebabkan kematian koloni maggot. Oleh karena itu, pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Kalau sampah yang masuk sudah dipilah dengan benar, maka tidak ada lagi yang dibuang ke TPA karena semuanya bisa diolah menjadi pakan ternak atau pupuk. Kami akan terus melakukan pendampingan, pelatihan, dan edukasi kepada pengelola UPS maupun masyarakat agar pengelolaan sampah berbasis maggot dapat berkembang lebih luas dan berkelanjutan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *