SatuNet.co,Depok – Menyusui merupakan perjalanan yang perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan. Persiapan secara mental dan fisik sejak hamil menjadi salah satu langkah penting untuk membantu ibu menjalani proses menyusui dengan lebih siap. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Seminar Awam Bicara Sehat RSUI, bersama dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dalam rangka memperingati Pekan ASI Sedunia yang diselenggaran di Lingkar Tengah, Gedung Entrance RSUI Depok.
Edukasi dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Dokter Laktasi RSUI yaitu dr. Mala Azitha, CBS dan dr. Rakhmi Sukmadewanti, dan juga di moderaatori oleh Bidan Ranum Muntazia. Pada seminar kali ini membahas berbagai hal penting bagi ibu dan keluarga dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI.
Mengawali sesi edukasi, dr. Mala menjelaskan bahwa menyusui dapat dipandang sebagai sebuah investasi yang persiapannya dimulai sejak masa kehamilan. Persiapan tersebut mencakup kesiapan mental maupun fisik ibu, sehingga ibu memiliki bekal yang lebih baik ketika memasuki masa menyusui.
Satu jam pertama, momen penting bagi ibu dan bayi. Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam proses awal menyusui adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD dilakukan dengan meletakkan bayi di dada ibu segera setelah lahir, minimal selama satu jam, sehingga bayi dapat mencari puting ibunya secara alami. IMD memiliki sejumlah manfaat, di antaranya membantu merangsang produksi ASI lebih cepat, menjaga suhu tubuh bayi, memperkuat ikatan atau bonding antara ibu dan bayi, serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif
Selain IMD, ibu juga perlu mengenal kolostrum, yaitu ASI pertama yang keluar pada hari-hari awal setelah melahirkan. Kolostrum umumnya berwarna kekuningan, lebih kental, dan keluar dalam jumlah yang relatif sedikit. Meski demikian, jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan lambung bayi pada masa awal kehidupannya. Kolostrum juga kaya akan antibodi dan faktor imun.
Proses menyusui juga dipengaruhi oleh hormon oksitosin. Hormon yang kerap disebut sebagai “hormon cinta” ini berperan dalam pengeluaran ASI melalui let-down reflex, membantu ibu merasa lebih rileks, sekaligus memperkuat ikatan antara ibu dan bayi.
Melanjutkan edukasi, dr. Rakhmi, mengajak ibu dan keluarga memahami bahwa berbagai masalah selama menyusui merupakan kondisi yang dapat terjadi. Ibu dapat mengalami kelelahan, merasa ASI kurang, bayi sering menyusu, bayi rewel, payudara bengkak, hingga puting lecet.
Namun, munculnya berbagai kondisi tersebut bukan berarti ASI harus dihentikan. Menurut dr. Rakhmi, ketika menghadapi kesulitan menyusui, ibu tidak perlu menghadapinya seorang diri. Dukungan dari keluarga, kader kesehatan, maupun tenaga kesehatan dapat membantu ibu mendapatkan informasi dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Melalui kegiatan Bicara Sehat dalam rangka Pekan ASI Sedunia, RSUI mengajak seluruh Ibu, apabila menghadapi kesulitan dalam memberikan ASI, ibu tidak perlu merasa gagal atau langsung memutuskan untuk menghentikan ASI. Mintalah bantuan, mencari informasi yang tepat, dan konsultasikan lebih awal kepada tenaga kesehatan apabila mengalami kendala dalam menyusui.
Sebagai rumah sakit pendidikan, RSUI berkomitmen untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah dipahami masyarakat serta mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih ramah dan suportif bagi ibu dan bayi.











